USAHA PETERNAKAN AYAM BROILER (TIPE PEDAGING)

USAHA PETERNAKAN AYAM BROILER (TIPE PEDAGING)

Oleh  :  Jamaluddin ZA, S.Pt (Kasi Budidaya Peternakan Dinas Peternakan Kab. Lebak)

 

Permintaan akan ayam broiler setiap tahun semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsumsi ayam broiler oleh masyarakat. Pola pemeliharaan yang tidak terlalu rumit dan priode pemeliharaan yang singkat jika dibandingkan dengan ayam buras menjadi salah satu faktor yang membuat banyak masyarakat yang berinvestasi pada usaha ayam broiler, terbukti dengan banyaknya bermunculan usaha peternakan ayam broiler di pedesaan.

 Ayam broiler atau ayam pedaging adalah hasil persilangan dari berbagai macam jenis ayam yang memiliki produktifitas yang tinggi sehingga menghasilkan ayam unggul.  Hasil pemuliaan ini dikembangkan mulai dari great grand parent stock (GGP), grand parent stock (GP) kemudian parent stock (PS) dan yang terakhir akan dilepas pada konsumen yang disebut final stock.  Klasifikasi ayam broiler adalah sebagai berikut :  Kingdom : Animalia, Filum : chordata, Kelas : Aves, Ordo : Galliformis, Famili : Phasianidae, Genus : Gallius, Spesis : Gallus domesticus.

Ayam broiler akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika di dukung dengan pakan yang memenuhi kebutuhan nutrisi ayam, perawatan yang baik, ketepatan dalam pencegahan dan pengendalian penyakit dan sistim perkandangan yang baik.  Oleh karena itu perlu diketahui langkah-langkah yang dilakukan agar hasil dari pemeliharaan ayam brolier dapat tumbuh dengan optimal. Berikut ini hal-hal yang harus dilakukan oleh peternak yang ingin berusaha dalam bidang usaha ayam broiler :

A. Pembuatan kandang

Kandang ayam broiler bisa berbentuk kandang panggung, close house maupun kandang postal. Namun saat ini secara umum kandang untuk peternak rakyat berbentuk kandang panggung, terutama pola kemitraan.  Hal ini dilakukan karena hasil peroduksi dari kandang panggung lebih baik dibanding kandang postal.

kandang panggung terbuat dari bambu yang beratapkan daun rumbia, biaya pembuatan kandang panggung memang membutuhkan biaya yang cukup besar. Kandang panggung kapasitas 5.000 ekor bisa mencapai biaya Rp 60 000.000,- sampai Rp 80.000.000. Hampir semua bahan pembuatan kandang terbuat dari bambu kecuali atap. Kandang harus terbuat kokoh dan rapi, kondisi kandang dibuat senyaman mungkin untuk ayam yang akan diperlihara. Luas kandang ideal untuk ayam broiler finisher adalah 8-10 ekor/meter.

Peralatan yang harus disediakan di dalam kandang adalah indukan atau brooder, tempat pakan dan tempat minum. Pembuatan kandang tidak melawan arah mata angin dan jauh dari pemukiman, jarak idealnya adalah minimal 500 m dari pemukiman.

Sebelum membuat kandang terlebih dahulu memperhatikan Rencana tata ruang dan Rencana wilayah dari suatu Daerah, agar tidak ada masalah dikemudian hari, baik dengan pemerintah daerah maupun masyarakat sekitar. Sebelum mendirikan kandang terlebih dahulu mengurus izin usaha peternakan. Mulai dari izin lingkungan, yang mendapat persetujuan dari masyarakat sekitar yang dibuktikan dengan tandatangan masyarakat yang memungkinkan terkena dampak dari bau dan lalat akibat usaha ayam broiler. Izin lingkungan juga harus diketahui oleh pemerintah Desa maupun Kecamatan yang dibuktikan oleh tanda tanga Kepala Desa dan Camat, baru kemudian mengajukan izin ke Pemerintah Kabupaten.

B. Tahapan pemeliharaan

    C.1. Tahap pertama ( usia 1 hari – 7 hari)

Saat DOC baru datang dilakukan pemulihan kondisi ternak dari perjalanan. Hal yang pertama dilakukan adalah pemberian air minum yang ditambah dengan gula dan vitamin. Pemberian air gula yang mengandung glukosa dimaksudkan untuk memulihkan energi DOC selama transportasi sehingga energinya pulih kembali.

       Sebelum DOC dimasukkan ke dalam brooder terlebih dahulu disediakan litter (sekam padi atau serbuk gergaji) sebagai alas, tempat pakan, tempat minum dan brooder (penghangat). Penyediaan brooder bertujuan untuk menghangatkan suhu ruangan dimana DOC ditempatkan, suhu lingkungan harus sesuai dengan suhu yang dibutuhkan DOC. Setelah DOC masuk dalam brooder harus diperhatikan penyebaran DOC untuk mengetahui apakan suhu sesuai dengan kebutuhan DOC. Jika DOC mendekat ke lampu dalam brooder berarti DOC kedinginan atau suhunya kurang, jadi perlu ditambah suhu dengan meningkatkan watt atau menambah lampu. Jika semua DOC menjauhi lampu berarti suhu terlalu tinggi jadi perlu dikurangi suhunya. Kondisi suhu yang tepat adalah DOC menyebar, tidak berkumpul di dekat lampu atau seluruhnya menjauh dari lampu, suhu idealnya adalah 32-34 0C.

C.2. Tahap ke dua (usia 8-14 hari)

Semakin bertambah usia tentu semakin besar tubuh ayam sehingga brooder harus semakin diperlebar ukurannya. Suhu ideal pada ayam usia 8-14 hari adalah 27-29 0C. tahap ini pemberian vitamun tetap dilakukan.

C.3. Tahap Ketiga (usia 15-21 hari)

Usia ayam 15-21 hari tidak diperlukan penghangat (brooder) terutama pada siang hari, karena pada usia tersebut sudah mulai bisa menyesuaikan dengan suhu lingkungan. Ayam-ayam pada kandang panggung dilepas di dalam kandang tanpa alas litter lagi. Vitamin tetap harus diberikan pada tahap ini.

C.4.  Tahap keempat (usia 22-28 hari)

Tahap ini tubuh ayam sudah mulai besar, Dilakukan penimbangan berat badan ayam pada usia 28 hari. Suhu lingkungan dijaga dengan mengatur lapisan pelastik atau terpal yang ditempatkan di sisi kandang.

C.5.  Tahap kelima (usia 29-35 hari)

Tahap kelima sangat perlu memperhatikan penanganan limbah, terutama feses ayam.  Kandang postal pada tahap ini dilakukan penambahan alas lantai kandang dan pengadukan agar lantai tidak lembab.  Kandang panggung pada tahapan ini harus dilakukan penanganan limbah yang lebih intensif karena feses cepat menumpuk dibawah kandang.  Akhir tahapan yaitu usia 35 hari dilakukan penimbangan bobot badan ayam. Usia 35 hari ayam sudah mulai bisa dipanen. Jika pertumbuhan ayam baik maka akan dicapai berat badan 1,8 – 2 kg.

C.6. Tahap Keenam (35-42 hari)

Peternak yang ingin mendapatkan bobot badan ayam yang lebih tinggi bisa dilakukan pemeliharaan sampai 42 hari. Jika pertumbuhan ayam baik, bobot badan bisa mencapai 2,2 kg.  Sangat perlu diperhatikan pada tahapan ini adalah pengontrolan limbah agar tidak menimbulkan penyakit pada ayam dan mencemari lingkungan.

C. Pemberian Pakan dan minum

Pakan memiliki peran yang sangat penting dari usaha ayam broiler. Pakan menempati biaya paling besar dalam usaha ayam broiler yaitu sekitar 70 %.  Pemberian pakan harus sesuai tahapan dan memenuhi kebutuhan untuk mempercepat pertumnbuhan ayam. 

Pakan ayam broiler terdiri dari pakan starter yaitu umur 0-4 minggu dan pakan finisher yaitu umur 4-6 minggu. Pemberian pakan ayam broiler setiap hari pada usia ayam 1-7 hari adalah 17 gram/ekor. Pemberian pakan pada ayam broiler setiap hari usia 8-14 hari sebanyak 43 gram/ekor. Pemberian pakan ayam broiler setiap hari usia 15-21 hari adalah 66 gram/ekor. Pemberian pakan ayam broiler setiap hari usia 22-28 hari adalah 91 gram/ekor dan Pemberian pakan ayam broiler setiap hari usia 29-35 hari adalah 111 gram/ekor, pemberian pakan ayam broiler usia 36-42 hari adalah 129 gram/ekor/hari.   Pemberian minum diberikan secara adlibitim (tersedia setiap saat). Pemberian vitamin bisa dilakukan dengan mencampur dengan air minum. Persyaratan mutu pakan ayam broiler dapat dilihat pada tabel berikut :

 

Tabel 1. Persyaratan mutu pakan starter

No

Parameter

Satuan

Persyaratan

1 Kadar air (Maks) % 14,02
2 Protein Kasar (min) % 19,03
3 Lemak Kasar % 7,44
4 Serat Kasar (maks) % 6,05
5 Abu (maks) % 8,06
6 Kalsium (Ca) % 0,90-1,20
7 Fospor (P) total % 0,60-1,00
8 Fospor (P) tersedia (min) % 0,40
9 Aflatoksin (maks) µ/kg 50,0
10 Energi termetabolis (EM) (min) Kkal/kg 2900
11 Asam amino
– lisin
– metionin
– metionin + sistin
 
%
%
%
 
1,10
0,40
0,60

sumber : SNI 01-3930-2006

 

Tabel 2. Persyaratan mutu pakan finisher

No

Parameter

Satuan

Persyaratan
1 Kadar air (Maks)

%

14,02

2 Protein Kasar (min)

%

18,03

3 Lemak Kasar (maks)

%

8,04

4 Serat Kasar (maks)

%

6,05

5 Abu (maks)

%

8,06

6 Kalsium (Ca)

%

0,90-1,20

7 Fospor (P) total

%

0,60-1,00

8 Fospor (P) tersedia (min)

%

0,40

9 Aflatoksin (maks)

µ/kg

50,0

10 Energi termetabolis (EM) (min)

Kkal/kg

2900

11 Asam amino
– lisin
– metionin
– metionin + sistin
 

%

%

%

 

0,90

0,30

0,50

sumber : SNI 01-3931-2006

 

D.  Vaksinasi

Vaksinasi dilakukan dua kali, vaksin pertama dilakukan pada saat usia ayam 4 hari dengan tetes mata. Kemudian vaksin ke dua setelah usia ayam 21 hari. vaksin kedua bisa dilakukan dengan penyuntikan atau dengan air minum. Vaksin yang diberikan terutama adalah vaksin ND.

 

E.  Bio Security

Bio security adalah : serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencegah masuknya penyakit ke dan dari peternakan.  Elemen biosecurity adalah isolasi, pengawasan lalulintas unggas dan sanitasi.

Isolasi dilakukan dengan menjaga jarak dengan peternakan lain, membuat pagar pembatas disekeliling peternakan, membuat pintu gerbang dan memasang tanda peringatan, mengandangkan unggas, memisahkan unggas berdasarkan umur dan spesis.

Pengawasan lalulintas yaitu membatasi dan mengawasi keluar masuk peternakan orang, hewan, kenderaan dan peralatan.  Pola lalulintas terkendali di peternakan dilakukan mulai dari ayam muda, ayam tua, ayam sakit dan ayam sehat.

Sanitasi yaitu membersihkan dan mendesinfeksi kandang, kenderaan dan secara teratur juga melakukan Hygiene pekerja kandang yaitu mencuci tangan, mandi, pakaian khusus dan sepatu boots. Pekerja kandang harus menangani unggas yang hidup, pakan dan telur terlebih dahulu sebelum menangani feses dan unggas yang mati.

            Faktor resiko pada biosecurity adalah unggas baru, manusia, burung liar, peralatan, kenderaan, rodensia, hewan lain, serangga, air, makanan dan unggas mati. Tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi faktor resiko biosecurity adalah melakukan isolasi dan karantina unggas yang baru, membatasi kunjungan ke peternakan lain selama ada wabah, membatasi orang dan kenderaan yang berkunjung ke peternakan, tersedianya pakaian khusus di peternakan, desinfeksi kenderaan, peralatan dan pekerja kandang. Kemudian kandang bebas dari unggas air, membuang tumpukan sampah yang dapat menjadi tempat berkembang biak rodensia, memotong rumput di sekitar peternakan secara teratur, mencegah munculnya genangan air disekitar kandang, menggunakan air bersih, mencegah kontaminasi pada pakan, pemisahan unggas sakit dan sehat serta membakar dan mengubur bangkai.

 

F. Penyakit

F.1.  Tetelo

            Penyakit tetelo atau Newcastle Disease disebabkan oleh spesis Newcastle Disease virus.  penyakit tetelo bersifat akut,  Gejala klinisnya adalah hidung berlendir, sayap terkulai, lesu, hilang nafsu makan, sesak nafas dan kepala melintir atau melipat. Penularan yang sangat cepat dan menyebabkan kematian pada unggas. penyakit tetelo belum ditemukan obatnya sampai saat ini. sehingga langkah pencegahan yang harus dilakukan melalui vaksinasi.

 

F.2.  Gumboro (Infectious Bursal Disease)

            Penyakit gumboro disebabkan oleh virus, penyakit ini sangat menular pada ayam muda terutama usia 3-6 minggu. Kematian terjadi pada hari ke tiga sampai hari ke lima. Gejala klinis penyakit gumboro adalah lesu, mengantuk, kotor disekitar anus, diare dengan warna keputih-putihan, mudah terkejut dan posisi badan membungkuk, pada saat tidur paruh menjuntai kebawah.

pencegahan penyakit gumboro adalah kebersihan peralatan dan kandang, perlu dilakukan desinfeksi peralatan dan kandang, mencegah stress pada ayam dan dilakukan vaksinasi.

 

F.3.  Ngorok/Coryza/snot

            Penyakit ngorok adalah penyakit pada ayam yang menyerang sistim pernafasan.  Penyakit ngorok dapat menyerang ayam dalm setiap usia. penyakit ini dapat menurunkan produksi ayam yang sangat merugikan peternak. Penyebab penyaki ngorok adalah bakteri Haemophilus paragalliunarum, yang merupakan bakteri gram negatif.  Penularannya sangat cepat.  Gejala klinis penyakit ngorok adalah keluar lendir dari hidung awalnya bening kemudian menjadi kuning kental, sekitar mata bengkak dan mata tertutup kemudian ada suara ngorok pada saat bernafas. Pencegahan penyakit ngorok adalah sanitasi kandang, memperhatikan kepadatan kandang. Pengobatan dengan pemberian antibiotik gram negatif pada air minum.

 

F.4. Berak kapur/Pullorum

            Penyakit berak kapur disebabkan oleh bakteri salmonella pullorum, penyakit berak kapur  dapat menyebabkan kematian pada berbagai usia tapi kematian yang sangat tinggi terjadi pada anak ayam usia 1-10 hari.  Gejala klinis penyakit berak kapur  yaitu feses berwarna putih seperti kapur dan menempel pada anus, jengger berwarna keunguan, nafsu makan menurun, lemah dan sayap menggantung.  Pencegahan penyakit berak kapur dengan sanitasi kandang, peralatan, membersihkan sisa pakan dan melakukan desinfeksi.  Pengobatan dapat dilakukan dengan antibiotik.

 

 

DAFTAR PUSTAKA :

Badan Sertifikasi Nasional Indonesia tahun 2006

Pelatihan Pencegahan dan Pengendalian HPAI tahun 2009

Terkait

Komentari

Log In
Pegawai
Harga Produk Hewan
Harga Komoditas