TELUR TETAS

TELUR TETAS

Di susun : Asep Rohimat,  SPt

Berbeda dengan mamalia yang membesarkan embrio dalam tubuhnya, melahirkan anak, dan kemudian  memeliharanya, maka unggas menghasilkan telur yang mengandung cukup zat-zata makanan bagi embrio untuk berkembang diluar tubuh dan tidak ada makanan khusus yang diperlukan setelah menetas.

            Telur, seperti halnya susu, adalah hasil sekresi dari sistem reproduksi dan mekanisme endokrin, metabolic dan kimia faali. Telur ayam terdiri kurang lebih sebagai berikut : kuning telur 31 %, albumin (putih telur) 59%, dan kulit telur 10% (Anggorodi, 1994).

            Telur ayam terbagi dua yaitu telur konsumsi dan telur tetas, ada beberapa kriteria telur yang dihasilkan oleh ayam betina untuk diklasifikasi telur tetas. Untuk masuk kriteria telur tetas yang baik yang nantinya akan berpengaruh pada daya tetas tetas ada hal-hal yang perlu di perhatikan, yaitu dengan pemilihan telur tetas.

Pemilihan telur tetas :

  1. Untuk menghasilkan telur tetas, haruslah dari telur yang sudah dibuahi, maka pemeliharaannya selain betina harus ada pejantannya, rasio induk betina dan jantan 12:1 (Blakely & Bade, 1998).
  2. Umur induk, jantan maupun betina. Umur induk berpengaruh kepada daya tetas telur, semakin tua induk daya tetas semakin menurun, umur dari induk tidak lebih dari 12 bulan. Dewasa kelamin pada ayam dicapai pada umur sekitar 22 sampai 26 minggu (Blakely & Bade, 1998).
  3. Tidak adanya kecacatan pada kulit telur, kulit telur diciptakan untuk menahan benturan dan penetrasi mikroorganisme. Warna kulit telur tidak ada hubungannya sama sekali dengan nilai gizi telur dan tidak dipengaruhi oleh nutrisi pakan, warna kulit telur tergantung dari produksi pigmen pada bangsa ayam tertentu. Hal utama yang menyangkut kualitas kulit telur adalah ketebalan dan strukturnya. Kulit telur hampir 100% terdiri kalsium karbonat maka faktor nutrisi utama dalam pembentukan sempurnanya adalah kalsium. Kadar Vit D yang cukup diperlukan untuk absorpsi kalsium. Terlalu banyak fosfor dan defisiensi mangan dapat menimbulkan kulit telur yang tipis dan tidak kuat. Terlalu banyak kalsium menimbulkan penimbunan kalsium pada kulit telur, kulit telurnya tidak mulus, ada kerutan (Anggorodi, 1994).
  4. Berat telur dipengaruhi oleh factor genetik, tingkatan dewasa kelamin, umur (semakin tua umur induk semakin berat telur yang dihasilkan), obat-obatan dan pakan (protein dan asam amino). Pada defisiensi yang ringan, kuantitas protein yang disintesis akan menurun dan pada defisiensi parah, sintesis protein telur dapat berhenti, produksi telur berhenti. Defisiensi asam linoleat dapat mengakibatkan telur yang berkurang besarnya, bisa berkurang 20 gram (Anggorodi, 1994).

      5.   Kulit telur harus bersih dari kotoran.

      6.   Rongga terlihat jelas di bagian tumpul dan tidak akan berpindah pindah dapat dilihat

           dengan menggunakan teropong telur

      7.  Umur telur tidaklah lebih dari 7 hari dan cara penyimpanannya benar yaitu pada suhu 12,50C

           dan kelembaban realtif 35% (Blakely & Bade, 1998).

      8.  Bentuk telur normal tidak menyimpang mempunyai perbandingan antara lebar dan 

            panjang (2:3) bentuk oval.

      9.  Telur tetas tidak berbau busuk.

Setelah syarat-syarat terpenuhi maka telur hasil pemilihan siap ditetaskan baik oleh pengeraman dengan induk ayam atau dengan mesin tetas yang mempunyai kapsitas lebih besar.

Daftar Pustaka

  • Anggorodi, R., Prof. Dr (1994). Cetakan ke V. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Blakely, James dan David H.Bade (1998). Cetakan ke IV. Ilmu Peternakan Terjemahan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Terkait

Komentari

Log In
Pegawai
Harga Produk Hewan
Harga Komoditas