GANGGUAN FUNGSIONAL ORGAN REPRODUKSI TERNAK RUMINANSIA

GANGGUAN FUNGSIONAL ORGAN REPRODUKSI TERNAK RUMINANSIA

  Oleh : Jamaluddin ZA, S.Pt (Kasi Budidaya Peternakan Dinas Peternakan Kab. Lebak)

Peternak yang memelihara ternak dengan tujuan budidaya tentu mengharapkan hasil dari turunan ternak yang dipeliharanya atau bertambah jumlah populasi ternak yang dimilikinya. Jika tidak ada pertambahan populasi sudah barang tentu usahanya tersebut akan mengalami kerugian. Peternak yang melakukan budidaya ternak akan berusaha menghasikan keturnan yang lebih cepat atau calving interval yang pendek, sehingga populasi cepat bertambah. Salah satu permasalahan dalam budidaya ternak ruminansia adalah terjadinya gangguan fungsional organ reproduksi atau organ reproduksi ternak tidak berfungsi dengan baik. Gangguan funsional ini mengakibatkan terganggunya proses reproduksi pada tubuh ternak yang mengakibatkan ternak tidak dapat bunting.  Tentu keadaan tesebut sangat merugikan peternak baik segi waktu maupun biaya pemeliharaan ternak. Gangguan fungsional reproduksi ternak ruminansia karena adanya abnormalitas hormonal. Gangguan funsional pada ternak ruminansia diantaranya adalah :

A. Cystic pada Ovarium

            Cystic pada ovarium yang umum terjadi adalah cystic folikel dan cystic luteal.  Gangguan fungsional reproduksi ternak ruminansia akibat adanya cystic bisa mengakibatkan terjadinya siklus birahi yang tidak teratur, siklus birahi yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, birahi terjadi berkali-kali lebih sering dari yang seharusnya, kedaan ini merupakan salah satu tanda adanya gangguan reproduksi pada ternak, birahi yang terus menerus dan tidak teratur disebut Nympomania. Nympomania bisa disebabkan oleh cystic folikel.

Gejala nympomania adalah estrus tidak teratur dan terus menerus, sering berusaha menaiki betina lain tetapi tidak mau dinaiki, bersifat akresif seperti pejantan, vulva bengkak dan relaksasi, organ genital odematoes dan atonic (beda dengan birahi), lendir meningkat dan lebih keruh dibandingkan estrus normal.  Menurut Setiadi  (2019) bahwa birahi yang tidak teratur jika lama estrus terjadi dengan selang 7 hari, 11 hari atau 14 hari, akan tetapi jika selang waktu estrus panjang 40 hari, 60 hari bukan irreguler estrus kemungkinan pengamatan oleh petani lemah. Ternak ruminansia yang mengalami nympomania jika dikawinkan baik IB maupun kawin alam tidak akan terjadi pembuahan karena ada permasalahan pada saluran reproduksi ternak tersebut. Terjadi birahi namun tidak terjadi ovulasi sehigga tidak akan terjadi pertemuan sel sperma dengan sel telur. 

Gangguan fungsional alat reproduksi bisa juga menyebabkan ternak dewasa yang tidak birahi dalam jangka waktu yang lama atau disebut Anestrus. Ternak betina yang mengalami anestrus tidak akan mau melakukan perkawinan atau jika dipaksa kawin tidak akan terjadi kebuntingan.  Anestrus karena gangguan hormonal disebabkan oleh tingginya kadar progesteron dalam darah pada saat tidak bunting atau akibat defisiensi hormon gonadotropin.  Gejala anestrus adalah jika tidak terjadi gejala estrus seperti tidak terjadi 3 B ( bereum, bareuh dan baseuh). Anestrus bisa disebabkan oleh cystic luteal.

Perbedaan cystic folikel dengan cystic luteal adalah cystik folikel memiliki dinding cystic yang tipis, bentuk biasanya banyak, hormon progesteron rendah, cairan cystic kuning terang. Sedangkan cystic luteal memiliki dinding cystic yang tebal, bentuk tunggal, hormon progesteron tinggi dan cairan cystik kuning pekat sampai keemasan.

B. Sub Estrus dan Birahi Tenang

Subestrus merupakan keadaan dimana gejala birahi yang berlangsung singkat hanya 3-4 jam, walaupun birahi terjadi singkat akan tetapi terjadi ovulasi. Sedangkan birahi tenang adalah keadaan gejala birahi yang tidak begitu jelas, walaupun gejala tidak jelas tetapi ada ovulasi.  Penyebab terjadinya sub estrus maupun birahi tenang diantaranya rendahnya hormon estrogen karena berat badan yang rendah, defisiensi betha carotin, P, Co dan Kobalt. 

Birahi tenang bisa disebabkan managemen pemeliharaan yang buruk diantaranya kandang yang gelap, kurang bergerak, temperatur yang terlalu tinggi atau kandang yang terlalu lembab, defisiensi nutrisi, penyakit kronis seperti parasit, predisposisi genetis atau karena hormonal.

Terjadinya berat badan rendah dan kekurangan mineral yang dibutuhkan disebabkan  pengelolaan pemberian pakan yang buruk sehingga kekurangan nutrisi terutama protein, mineral dan vitamin yang dibutuhkan oleh ternak.   Jika ini terjadi pada masa pubertas sampai beranak pertama maka ternak tersebut bisa mengalami birahi tenang. Keadaan kondisi tubuh ternak yang lebih kurus karena kekurangan kandungan nutrisi bisa lebih fatal akibatnya mempengaruhi fungsi hypofisis anterior sehingga produksi FSH dan LH rendah karena tidak terpenuhinya ATP akibatnya ovarium tidak berkembang atau terjadi hypo fungsi.

C. Penanggulangan

Penanganan yang seharusnya diakukan pada cystic folikel dengan pemberian hormon LH atau GnRh yang mempunyai efek LH, progesteron kombinasi dengan HCG secara intra muskuler.  Sedangngkan cystic luteal dapat ditanggulangi dengan pemberian hormon PGF2 alpha secara intra uterin atau intra muskuler.

Penanggulangan keadaan sub estrus dan birahi tenang pada ternak ruminansia terutama ternak sapi yaitu perbaikan pakan sehingga Body Condotion Score (BCS) meningkat menjadi 3, jika masih terdapat corpus luteum maka dapat dilakukan penyuntikan hormon PGF2 alpha dan diikuti dengan pemberian GnRh (Gonadotropin Releasing Hormon).

 

 

DAFTAR PUSTAKA :

 

Budianto A. (2017)  Sentra Peternakan Rakyat (SPR). Small Holder Farmer

                   cooperation.   Prsentasi Workshop ATR. BET Cipelang. Bogor

Setiadi A. M. (2019) Menajemen Kesehatan Reproduksi Div. Repdoduksi dan  

                   Kebidanan Dept. Klinik Reproduksi & Patologi |  Fak. Kedokteran

                    Hewan |  IPB. Disampaikan  pada Pelatihan Vokasi ATR Cinagara Bogor

Terkait

Komentari

Log In
Pegawai
Harga Produk Hewan
Harga Komoditas